Seiring dengan perkembangan media massa, seperti semakin banyaknya stasiun televisi baru dan kemunculan media online baru dapat menimbulkan permasalahan tersendiri. Apakah isi pesan yang disampaikan oleh media massa tersebut layak untuk dipublikasikan, bagaimana dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat dan lain sebagainya. Untuk menghindari dampak negative tersebut, praktisi komunikasi massa sudah seharusnya memiliki pedoman dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Pedoman tersebut disebut sebagai Etika Komunikasi Massa. Etika akan memaksa seorang Wartawan profesional untuk menyadari prinsip, nilai, moral, serta kewajibannya terhadap dirinya sendiri dan orang lain.
Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh seorang Wartawan, media massa ataupun komunikan dalam menyampaikan sebuah informasi atau berita yaitu tanggung jawab, kebebasan pers, masalah etis, ketepatan dan objektivitas, tindakan adil untuk semua orang.
Ketepatan & Objektivitas
Apa yang dimaksud dengan Ketepatan dan Objektivitas?
Ketepatan di sini maksudnya bahwa dalam menulis berita wartawan harus akurat, cermat dan menghindari adanya kesalahan sekecil apapun. Sedangkan maksud dari Objektivitas adalah berita yang ditulis berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan, bukan pendapat pribadi wartawan. Orientasi dan tujuan utama dari sebuah berita adalah kebenaran.
Contoh:
1. Ketika sedang menyampaikan pendapat pribadi, sebaiknya pembaca berita menggunakan intonasi dan penekanan suara yang berbeda dalam pengucapannya dengan ketika sedang menyampaikan laporan
2. Headline sebuah berita juga harus sesuai dengan isi berita yang disampaikan. Laporan berita juga mempresentasikan semua aspek/sisi peristiwa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan profesional:
1. Kebenaran adalah tujuan utama; orientasi berita yang berdasarkan kebenaran harus menjadi pegangan pokok setiap wartawan.
2. Objektivitas dalam pelaporan berita merupakan tujuan lain untuk melayani publik sebagai bukti pengalaman profesional di dunia kewartawanan.
3. Tiada maaf bagi wartawan yang melakukan ketidakakuratan dan kesembronoan dalam penulisan atau peliputan beritanya.
4. Editorial yang partisanship dianggap melanggar profesionalisme atau semangat kewartawanan.
Editorial atau tajuk rencana yang dibuat, meskipun subjektif sifatnya (karena merepresentasikan kepentingan media yang bersangkutan) harus ditekan untuk “membela” satu golongan dan memojokkan golongan lain. Praktik jurnalisme ini sangat sulit dilakukan oleh media cetak yang awal berdirinya sudah partisanship, tetapi ketika dia sudah mengklaim media umum, tidak ada alasan untuk membela golongannya.
5. Artikel khusus atau semua bentuk penyajian yang isinya berupa pembelaan atau kesimpulan sendiri penulisnya harus menyebutkan nama dan identitas dirinya.
6. Headline yang dimunculkan harus benar-benar sesuai dengan isi yang diberitakan.
7. Penyiar radio atau reporter televisi harus bisa membedakan dan menekankan dalam ucapannya mana laporan berita dan mana opini dirinya.
8. Editorial yang partisan dianggap melanggar profesionalisme atau semangat kewartawanan.
9. Artikel khusus atau semua bentuk penyajian yang isinya berupa pembelaan atau keseimpulan sendiri penulisnya harus menyebutkan nama dan identitas dirinya.
Jadi dalam menyampaikan sebuah berita, ada etika yang perlu diperhatikan oleh pelaku komunikasi massa, terutama seorang wartawan. Hal tersebut telah diatur dalam kode etik jurnalis. Realitas yang terjadi dalam penerapan etika komunikasi massa belum begitu maksimal. Beberapa media masih sering membuat pelanggaran terhadap kode etik mereka, sehingga masih perlu dilakukan pembenahan secara terus menerus.
Referensi :
https://pakarkomunikasi.com/etika-komunikasi-massa-menurut-shoemaker-dan-reese
Kelompok 3 :
Sindi Sagita – 193500020012
Wiwin Wandri – 193500020005
May Damaiyana Samosir – 203500140001
Fitria Nonita – 193500020011
Stephani – 193500040019
Sindi Sagita^
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Mpu Tantular
Dosen Pembimbing : Serepina Tiur Maida,S.Sos., M.Pd.,M.I.Kom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar